Muhasabah Terhadap Modal Hidup

Selamat tahun baru hijriyah 1435
Posting khutbah minggu ini tentang muhasabah terhadap modal hidup sebagai refleksi menyambut datangnya tahun baru 1435 hijriyah yang insyaallah jatuh pada hari Selasa 5 Nopember 2013. Marilah kita renungkan firman Allah swt yang berbunyi


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Hasyr: 18)
Ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita semua akan pentingnya mengingat amal perbuatan yang telah kita lakukan di masa sebelumnya. Mengingat setiap manusia harus berpacu seiring dengan perjalanan waktu dan terkait dengan perpindahan ruang, dari ruang di dunia hingga ruang di akhirat.

Hadirin sidang jumat Rahimakumullah.....
Setiap kehidupan butuh ruang dan waktu, ruang untuk bertempat sedang waktu untuk membatasi sampai kapan kita bisa bertempat, semua bergerak secara alamiah sesuai dengan sunnatullah yang ada. Tidak terasa waktu telah berlalu, hari berganti hari, bulan demi bulanpun berlalu, bahkan dari kemarau hingga musim hujanpun tiba, tak lama lagi kitapun akan berganti tahun, rela atau terpaksa kita akan menginjakkan nafas kita di tahun 1435 Hijriyah. Dengan bertambahnya tahun telah nyata bahwa garis kematian mendekat semakin nyata.

Siapapun tidak bisa mengelak dari kematian yang terus mendekat dengan pasti, bertambahnya tahun berarti bertambah pula satu tahun mendekatnya menuju titik kematian yang telah di tentukan oleh Allah. Diamanapun dan kapanpun, di ruang manapun dan disaat kapanpun, manusia tak akan mampu lari dari kejaran menuju kematian yang pasti kian lama kian mendekat dengan langkah pastinya.
Allah berfirman :
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.. (Q.S. An-Nisa’ 78).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan". (Q.S. Al-Jumu’ah 8)

Karena tidak bisa menghindar dari kematian itulah, maka tidak penting kapan kita menemui ajal, nanti esok hari, atau tahun-tahun yang akan datang, toh semua bakal mencalonkan diri menjadi orang yang mati, baik secara sukarela maupun dalam keadaan terpaksa. Yang terpenting bagi kita adalah apa yang telah kita perbuat untuk menghadapi kematian tersebut, disitulah ayat yang pertama tadi bertindak.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Hasyr: 18)

Hidup pada dasarnya tidak hanya semat-mata menghembuskan nafas dan menghirupnya kembali, tetapi hidup harus berprestasi dan berprasasti. Berprestasi artinya beramal sebaik-baiknya sebagai ongkos melangkah ke ruang yang abadi yakni ruang kubur dan alam akhirat, disamping itu hidup juga harus berprasasti, yang artinya kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain sehingga prasasti amaml perbuatan kita dikenang sepanjang zaman.

Kita tahu, usia baginda Nabi besar Muhammad saw tidak sampai 63 tahun, tetapi namanya dikenang sepanjang zaman, abadi berprasasti dalam hati semua ummat islam di dunia dan berpengaruh sampai diakhirat kelak, kita tahu usia Imam Ghazali antara 52-53 tahun, tetapi namanya dikenang harum dan pedoman kesufiannya diteladani oleh banyak orang, kita juga mengenal Imam Syafi’i pun usianya tidak lebih dari 53 tahun namun ijtihadnya dipakai dan abadi berprasasti di seluruh dunia sampai sekarang. Mereka para wali dan orang-orang ‘alim pun demikian, beliau-beliau tidak lama usianya namun kebaikannya meluber dan dikenang bagai prasasti yang abadi. Itulah sebaik baik manusia, dia yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya, dialah yang paling mulia di sisi Allah, karena beliau-beliau adalah tingkat tinggi nilai taqwanya.

Hadirin sidang jumat yang berbahagia
Imam Nawawi mengatakan, “Umur adalah modal kehidupan manusia.” modal yang banyak kalau tidak bisa mengolahnya maka kerugian yang diderita akan lebih parah dari modal yang sedikit. Umur adalah modal bagi kehidupan manusia, umur yang pendek tapi berkualitas jah lebih diharapkan dari pada sebaliknya.

Subhanallah... untuk apa bertambah umurnya jika ternyata makin lama makin banyak maksiatnya. Andaikan dalam agama ini diperbolehkan, maka lebih baik kita mati sekarang daripada tambah lama tambah pula maksiatnya. Sayangnya berdo’a agar didatangkan kematian lebih cepat adalah dilarang dalam agama.

Oleh karena itu dipenghujung tahun ini, sempatkan waktu untuk muhasabah dan menilai amal baik apa yang pernah kita lakukan, check and recheck kembali dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Dan setelah itu mari kita sama-sama melakukan perbaikan amal perbuatan kita sebagai langkah untuk menghadapi perpindahan ruang yang pasti yakni ruang kubur setelah kematian berlangsung. Umar ra berkata
وزنوها قبل أن توازنواها حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا
Hitunglah dirimu sebelum kau dihitung, timbanglah amal perbuatanmu sebelum engkau ditimbang

Hadirin sidang jumat rahimakumullah...
Apa yang akan kita banggakan dihadapan Allah? sholat kita, bukankah sering kita jumpai bahwa sholat kita hanya bersifat menggugurkan kewajiban saja, pernahkah kita menangis dan meratapi saat sholat yang terlewatkan, pernahkah kita bersedekah sebuah gedung, rumah atau kendaraan mewah sebagai ganti dari sholat kita yang terlewatkan tanpa sengaja seperti halnya Nabi Sulaiman, pernahkah kita rela berkorban untuk agama Allah sebagaimana al-Bajjal yang rela mengorbankan hidungnya terpotong oleh pedang di medan perang. atau seperti Saad bin Abi Waqqas misalnya, yang tidak gentar sedikitpun melawan musuh yang sangat tangguh.

Rasanya khotib sendiri dan kita semua jauh dari pengorbanan dalam mempertahankan keimanan kita ini. Pernahkah kita lihat fenomena masyarakat kita yang takut akan amanah, bukankah faktanya jabatan seolah-oleh menjadi kursi rebutan, sungguh kita tak pantas melihat diri kita paling baik, namun demikian kita tak putus asa semoga Allah memberikan ampunan atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan

Hadirin jamaah jumat yang berbahagia
Dari langkah yang kita lakukan di atas, ada satu lagi yang harus dilakukan di awal tahun ini yaitu merencanakan hari-hari mendatang dengan mengisi amal kebajikan, sebagai implementasi, atau pelaksanaan dari hasil muhasabah yang akan kita lakukan menjelang akhir tahun ini.

Bertambahnya tahun sama dengan berkurangnya modal hidup di dunia ini. Oleh karena nitu, langkah cerdas kita adalah, merencanakan kehidupan yang gemilang untuk mencapai derajat kemajuan di hadapan khaliq dan makhluqnya. Jika dalam lembaran-lembaran hari ini tidak diisi dengan amal kebajikan maka maka kita pasti akan tergolong orang yang rugi, na’dzu min dzalik masih ada waktu silahkan baca dosa dan cara taubatnya

Judul Khutbah Terkait:

Semoga Manfaat, nantikan khutbah terbaru