Khutbah jumat tentang arti rizki berkah

Khutbah jumat kali ini akan membawakan judul menarik terkait tentang arti rizki berkah, fenomena sosial yang satu ini sangat penting untuk dijelaskan di mimbar jumat, sebab banyak yang sudah tak peduli lagi dengan asal muasal dan cara apa yang akan dipakai untuk mengais rizkis seolah-olah cara halal dan haram tak terbedakan dengan jelas.

Allah telah berbaik 'hati' kepada kita, memberikan rizki yang tiada henti, Allah maha kaya, kekayaannya telah terbukti, tidak habis meski telah dibagi bagi kepada seluruh makhluknya sejak terciptanya alam ini. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang hamba Allah meminta rizki selain kepada-Nya. Menuru ibnu Mandzur, rizki ada yang bersifat Dhahir dan ada yang bersifat bathin, yang bersifat dhahir misalnya berupa, sandang, pangan dan papan, sedangkan rizki bathin misalnya, hilangnya kesedihan, sehat jasamiani ruhani dll.

Sering kita dengar hadits Nabi saw, yang memberkan informasi bahwa porsi rizki manusia telah ditulis oleh Allah sejak dalam kandungan berusia 120 hari. Untuk kelangsungan hidup manusia di dunia Allah melebihkan rizki antara hamba yang satu dengan yang lainnya, Terkadang kita menginginkan berlebih namun Allah tidak menghendaki atau juga sebaliknya. Orang lain tidak menyangka berharta lebih meski tidak diganrungi sejak masa kecilnya, Pendek kata Rizki adalah kuasa Allah ta'ala tidak bisa dipaksa-paksa, Allah berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71)

 Hadirin sidang jumat Rahimakumullah
Yang tahu jumlah rizki yang diberikan kepada hambanya, hanya Allah ta'ala, semua rahasia itu erat dalam genggaman-Nya, manusia tidak tahu rizki apa yang akan diperoleh esok, dan manusia juga tidak tahu dengan cara apa Allah memberikannya. Pendek kata, bahwa rzki itu penuh dengan misteri. 

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا....….
" Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (QS. Lukman : 34).

Karena tidak tahu itulah, supaya hambanya tidak bermalas malasan, dan ketika ada ketidak sesuaian menurut perhitungannya supaya manusia tidak terlalu kecewa, kketika ada ketidak sesuaian dengan keinginan supaya manusia mudah berserah diri dan tawakkal kepada Allah.

Dalam perjalan pencarian rizki manusia dihadapkan pada pilihan pilihan, ada cara yang halal namun lambat, ada cara singkat dengan menghasilkan rizki yang cepat, tidak sedikit manusia terjebak dalam pilihannya, sampai terjerumus ke dalam lembah nista, dengan cara mencuri atau korupsi, dengan cara manipulasi atau melalui cara tipu sana tipu sini. Mencari rizki sebagai sarana ibadah hukumnya adalah ibadah, tetapi dengan cara haram seperti ini, mencari rizki berharap mendapat rahmat, namun berbalik mendapat laknat, na'udzubillah min dzaalik 

Rizki disediakan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan hambanya, supaya hamba tersebut tenang dalam beribadah kepada-Nya. Karena itu mencarinya adalah ibadah yang mulia. Maka jangan sampai mencari rizki terjebak kepada rizki yang haram, baik haram secara dzatnya, maupun haram sebab memperolehnya.

Tidak sedikit orang orang yang salah pilih jalan untuk memperolehnya, sehingga yang asal muasal mencari rizki itu ibadah berubah menjadi
Ibarat orang minum, rizki itu sebagai gelasnya, minumlah dengan gelas yang bersih supaya badan yang sehat, jangan coba coba minum dengan gelas kotor kalau ingin hidup sehat. Jalani kehidupan ini dengan rizki halal dan berkah kalau ingin hidup berbahagia di dunia, sungguh harta yang tidak berkah itu banyak kelihatannya, besar dalam jumlahnya tetapi hakikatnya sedikit sekali manfaatnya, dan tidak punya pengaruh baik untuk mencapai kedamaian dalam hatinya. Karena Rizki yang berkah itu sangatlah penting

Rizki yang berkah adalah, rizki yang mempunyai efek kebaikan berlipat ganda di setiap lini kehidupannya, , pengertian berkah tidak selalu identik dengan jumlah materi yang dimiliki, tetapi berkah juga menyertai harta yang sedikit. Hal ini tercermin pada diri yang merasa berkecukupan memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun income yang didapatkan masih jauh dari cukup, namun tak jarang kita lihat kebahagiaan selalu menyelimutinya. Seperti yang disindir di dalam Hadits Hakim bin Hizam Radhiyallahu 'anhu di bawah ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :
يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ
"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini begitu hijau lagi manis. Maka barangsiapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan jiwa, niscaya akan diberkahi. Dan barangsiapa mengambilnya dengan kemuliaan jiwa, niscaya tidak diberkahi; layaknya orang yang makan, namun tidak pernah merasa kenyang".( HR al Bukhari, kitab az Zakat)

Hadirin yang dimulyakan Allah…
Saat ini, banyak orang yang tidak peduli lagi dengan halal – haramnya pekerjaan, karena kekhawatiran yang menggelayuti hatinya, khawatir dengan masa depannya, kalau-kalau tidak mengumpulkan harta sebanyak banyaknya diwaktu usia produktifnya, ia akan kekuarangan dimasa tua sehingga tidak terkontrol, jalan apa saja ia tempuh tak peduli halal atau haram.
َ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
"Akan datang suatu masa pada manusia, seseorang tidak peduli terhadap apa yang digenggamnya, apakah dari halal atau dari yang haram" (HR al Bukhari, kitab al Buyu’, bab Man Lam Yubali min Haitsu Kasaba al Mal (4/296)

Manusia hanya bertugas sebagai hamba yang berusaha dan Allah-lah penentunya. Jangan khawatir bahwa rizki kita akan terambil oleh orang lain, karena Allah sudah memberikan porsi tersendiri kepada hamba-hambanya. Antara yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Sungguh seseorang tidak akan meninggal dunia sampai jatah porsi rizki yang ditentukan oleh Allah telah habis dimakannya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
"Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baik dalam mencari (rizki). Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai ia sudah meraih seluruh (bagian) rizkinya, meskipun tertunda darinya. Bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari (rizki)" (HR Ibnu Majah)

Hadirin yang dimuliakan Allah
Hidup ini adalah pilihan-pilihan, ada pilihan baik ada pilihan buruk, termasuk dalam aktifitas mengais rizki. Dalam mencari rizkinya Allah, carilah yang halal dan berkah. Berkah (atau barokah), berasal dari kata الْبُرُوك (al buruk). Maksudnya ialah الثُّبُوت (menetap). Az Zajjaj mengartikan berkah, sebagaimana dikutip oleh al Qurthubi dalam tafsirnya, dengan limpahan pada setiap hal yang mengandung kebaikan. Kata itu pun dimaksudkan pula kepada makna pertambahan dengan tetap terpeliharanya dzat aslinya.

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, bahwa mayoritas manusia tidak memahami keberadaan berkah, kecuali pada harta yang semakin bertambah banyak. Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan dengan perumpamaan yang sudah akrab dengan manusia. Yakni layaknya orang makan tetapi tidak pernah kenyang ( Fat-hul Bari : 3/337) 

Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa cara-cara yang legal dalam mengais rizki, tidak hanya mendatangkan rizki yang halal lagi thayyib, tetapi juga akan berpengaruh pada lahirnya insan-insan masa depan, yaitu anak-anak yang berjiwa suci lagi berkepribadian luhur, lantaran mendapatkan asupan gizi dari makanan halal. Selain itu, juga dapat menghadirkan karunia lain, yang tidak bisa terpantau oleh indera ataupun dihitung dengan materi. Itulah berkah.

Hadirin yang dimulyakan Allah..
Riwayat lain mengatakan barangsiapa yang mengambilnya dengan keserakahan jiwa, niscaya tidak akan
diberkahi, layaknya orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang” (Riwayat Al Bukhari). Hadits ini memberikan pengertian yang mendalam, bahwa rizki yang tidak berkah, hanya besar dalam jumlahnya tetapi sediit sekali manfaat untuk kehidupannya. Mudah mudahan kita tidak terjebak kepada pilihan yang haram, haram secara dzatnya maupun haram sebab mencarinya amin ya rabbal alamin…

Judul Khutbah Terkait:

Semoga Manfaat, nantikan khutbah terbaru