Manuai hidup tenang tanpa kebohongan dan korupsi

Pada kesempatan Khutbah Jumat kali ini, rasanya sangat baik dan bijak khotib mengajak untuk merenungkan sejenak beberapa hal berkaitan dengan kejujuran, karena kejujuran menuai hidup tenang dengan modal tanpa kebohongan dan korupsi. Sifat mulia yang bernama jujur itu ternyata mampu mendatangkan berbagai macam keuntungan dan manfaat. Disamping menyebabkan kselamatan di akhirat bagi pemiliknya, sifat jujur juga membawa banyak keuntungan kehidupan dunia. Banyak sekali keuntungan yang bisa diambil dari sifat jujur, diantaranya hidup sebagai orang yang terhormat, dicintai banyak orang dan memperoleh ketenangan.

Dalam aktifitas apapun orang yang membiasakan diri bersikap jujur, pasti akan berusaha menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku, baik itu aturan agama, masyarakat, ataupun aturan negara. Orang yang jujur tidak pernah secara sengaja melanggar larang yang telah ditetapkan. Dia senantiasa mematuhi tata aturan yang ditetapkan. Dia tidak perlu takut kalau aibnya terbongkar atau dikejar-kejar pidana karena telah melakukan kesalahan. Semua yang dilakukakannya adalah sesuatu yang benar dan tidak melanggar hukum, sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Oleh karena itu, hidupnya berlimpah ketenangan. Dalam hadits yang berstatus hasan disebutkan

عن النواس بن سـمعـان رضي الله عـنه، عـن النبي صلى الله عـليه وسلم قـال
الـبـر حـسـن الـخلق والإثـم ما حـاك في نـفـسـك وكـرهـت أن يـطـلع عــلـيـه الـنـاس
[رواه مسلم]
Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesutu yang mengganjal di dalam dirimu, dan tidak senang jika orang lain melihatnya (HR. Muslim: 2553)

Gambaran tersebut bertolak belakang tentunya dengan orang yang suka berbohong. Sifat bohong adalah lawan dari sifat jujur. Ibarat air dengan minyak, kedua sifat ini tidak akan pernah bisa menyatu. Selain akan menggiring pelakunya ke dalam neraka di akhirat nanti, seifat bohong juga banyak menimbulkan kerugian di dunia. Dalam sebuah riwayat ‘Aisyah dari Abdullah Ibn Mas’ud menyebutkan Bahwa rasul saw bersabda:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا (رواه البخاري)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwasanya beliau bersabda. ‘Sesungguhnya sidiq itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang beperilaku sidiq, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang siddiq. Sementara kedustaan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta. (HR. Bukhari)

Hadits ini dengan jalur sanad merupakan hadits shahih yang diriwayatkan oleh seluruh A’immah Ashab Kutub Al-Sittah, kecuali imam Nasa’i :

Jamaah Jumat rahimakumullah...
JIka seseorang telah dikenal sebagai orang yang jujur, maka dimanapun dan kapanpun dia berada, semua orang akan respek dan hormat kepadanya, begitupula sebaliknya orang yang terkenal dengan sifat bohongnya maka dimanapaun dan kapanpun orang-orang sekelilingnya akan menyematkan titel sebagai pembohong. Setinggi apapun jabatannya orang lain akan meremehkannya.

Lalu, bagaimana dengan nasib seseorang yang gemar sekali melakukan tindakan korupsi?, tentu saja, karena korupsi merupakan salah satu bentuk kebohongan, penyelewengan wewenang dan anggaran, sebuah prilaku yang bertentangan dengan kebenaran. Ia tak pantas mendapat penghormatan meskipun berpakaian rapi dan berdasi.

Dalam kondisi yang demikian ia banyak melakukan kebohongan diantaranya adalah, kebohongan kepada Allah atas amanat yang diembannya, bohong terhadap orang yang dipimpinnya dimana banyak harapan rakyat yang tertumpu dipundaknya. Sangat wajar jika para koruptor dihujat dan tidak diterima dalam komunitasnya.

Kepiawaiannnya dalam bersilat lidah, kecerdasan dan pengalamannya tidak menjamin seseorang tidak berbuat aniaya dan terjebak dalam praktik korupsi. Krenanya setiap muslim harus berhati-hati dan istiqomah dalam melakukan kejujuran. Di era carut marut seperti ini orang jujur sudah mulai langka. KEilmuan yang pernah dikaji tidak cukup hanya sebatas pengetahuan belaka, akan tetapi harus dijadikan sebagai dasar pijakan dalam melangkah di dunia ini. Keutamaan seseorang akan tercapai apabila seseorang mampu mengawinkan ilmu pengetahuan dalam praktik keseharian dengan jujur. Allah berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. as-Shaff: 3)

Hadirin sidang jumat rahimakumullah...
Apabila dalam sepak terjang kehidupannya konsisten dalam garis kejujuran dari perkataan sampai tindakannya maka struktur kehidupan akan menjadi teratur, muara dari keteraturan dalam hidup tersebut adalah aman tanpa gangguan, tenang tanpa kekacauan, dan aktifitas lancar tanpa gangguan kejiwaan. Ia selalu siap di audit secara terbuka oleh siapapun dan kapanpun serta dimanapun ia berada. Jadi buah berharga dari kejujuran adalah ketenangan dalam hidup.

Jaminan ketenangan bagi orang yang senantiasa berbuat kejujuran adalah sebuah jaminan yang pasti. Dalam sebuah riwayat hasan ibn Ali ibn Abi Thalib disebutkan, Rasul saw bersabda:

دع ما يريبك إلى ما لايريبك فإن الصدق طمأنينة وإن الكذب ريبة
Tinggalkanlah sesuatu yang mengusik dirimu untuk beralih pada sesuatu yang tidak mengusik dirimu. Karena sesungguhya kejujuran itu membawa ketenangan dan kebohongan menyebabkan perasaan tidak tentram (HR. Tirmidzi)

Dengan tidak berbohong dan menyalahgunakan wewenang, hari hari akan menjadi tenang, korupsi hanya menyisakan resah berkepanjangan yang mengakibatkan berbagai gejolak penyakit lain.

Marilah kita sisakan tekad bulat untuk selalu istiqamah dalam berbuat kejujuran, yakinlah bahwa di dalam kejujuran tersimpan kebahagiaan yang abadi, keabadiannya sejak di dunia, terlebih di akhirat kelak amiiin ya rabbal alamin...

=======

Hidup Sederhana Mengikis Korupsi

Sebagaimana pusat khutbah jumat akan posting khutbah tentang hidup sederhana mengikis korupsi, alasannya sederhana saat ini sedang marak, faktanya media banyak yang memberitakan hal itu.

Sidang Jumat Rahimakumullah...

Rasul saw bersabda yang artinya :

لوأن لإبن أدم واديا من ذهب أحب أن يكون له واديان ولن يملاء فاه إلا التراب ويتوب عاى من تاب

"Seandainya anak Adam memiliki sebuah lembah berisi emas, pasti dia ingin memiliki dua lembah emas. Tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali hanya tanah (kuburan). Dan Allah akan memberi taubat kepada orang-orang yang mau bertaubat". (HR. Bukhari)

hadits tersebut di atas memberi pengertian betapa setiap manusia mempunyai karakter rakus, kerakusan manusia tak ada batasnya, andaikan ia mempuyai apa yang telah diidam-idamkan maka muncul keinginan yang lain untuk memilikinya, karakter dan keinginan yang demikian ini berjalan terus secara simultan hingga keinginan itu terkubur bersama jasad-jasanya. Kuburan adalah satu satunya yang dapat memberhentikan keinginannya yang berlebihan itu

Nah, untuk memenuhi hasrat ingin memiliki yang berlebihan dan nafsu rakus yang menggebu-nggebu itulah disinyalir menjadi faktor terbesar terjadinya korupsi yang saat ini makin menggila penyebarannya, berkembang biak dari semua lini, dari penjuru kota hingga pelosok desa, dari instansi negeri sampai pada instansi swasta, di masyarakat ningrat maupun rakyat jelata. Bahkan ada beberapa orang terpandang dalam ilmu agamanya tetapi ia terlibat korupsi yang jumlahnya fantastis mencapai miliaran rupiah, subhanallah... hal ini membuat pablik dan insan beragama menjadi terdengang tak bisa berkata apa-apa karena saking herannya. Tidak lain penyebabnya adalah bergaya hidup mewah

Sidang jumat rahimakumullah
Jika kita sepakat bahwa sumber terbesar kasus korupsi yang melanda ini disebabkan karena gaya hidup mewah, maka cara menangkis korupsi adalah gaya hidup dengan penuh kesederhanaan. Memang tidak mudah seseorang mampu bergaya hidup sederhana, apalagi era saat ini, barang-barang dijajakan di depan pelupuk mata, pembeli bak raja semua hadir dalam mesin genggaman, informasi televisi yang lebih menampakkan tontonan kehidupan berstandar 'kelas atas' yang ditonton oleh komunitas berstandar hidup mini sungguh menjadi pendorong yang sempurna menjadi kaum konsumeris.

Lihatlah tayangan iklan begitu heboh terbalut dalam kemasan unik denderung mendorong penontonnya untuk menggebu-nggebu memilikinya, kondisi demikian jika tidak diimbangi dengan keimanan dan ketaqwaan yang kuat maka, seseorang akan sangat mudah terjerumus dalam kancah praktik koruptif dan manipulatif. Apalagi hal ini diperparah lagi oleh kurang jelinya penikmat iklan, tentu akan berujung pada rasa ingin memiliki, lambat laun akan menjadi orang yang kepemilikan yang terkadang jauh dari penghasilan yang didapat.

Klimaks dari rentetan lingkaran kehidupan diatas akan berujung pada pemaksaan kebutuhan yang harga kebutuhannya lebih tinggi dari penghasilan bersih yang di dapatnya. Dari sini celah pemaksaan terhadap pemenuhan melalui jalan bathil, yang akhirnya terbentuklah prilaku korupsi jilid pertama dimulai, hingga beranak pianak berjilid-jilid.

Sidang jumat rahimakumullah
Keterangan di atas tidaklah menggiring manusia hidup kekurangan, karena prinsip agama sendiri tidak melarang seseorang hidup kaya, telah bertebaran dalil naqli maupun dalil aqli, Ajaran seperti zakat, infak, sedekah santunan anak yatim, mengasihi orang-orang yang hidupnya dalam taraf kekurangan, menunjukkan adanya anjuran menjadi orang kaya. Begitu juga dengan haji, bagaimana ada kwajiban haji jika kaya itu dilarang oleh agama, sedangkan haji pasti membutuhkan biaya yang tinggi. Jelalah bagi kita bahwa, sama sekali tidak bisa dibenarkan secara aqli maupun naqli bahwa Islam melarang menjadi kaya.

Hidup mewah dilarang, hidup miskin bukan anjuran, maka pilihan tepat dalam beragama adalah hidup sederhana. Dengan kesederhanaan langkah pemenuhan kebutuhan menjadi ringan, ibadah lebih fokus, dan beban pertanggung jawabannya di akhirat menjadi lebih ringan

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا.

Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
(Al- Furqon:67)

Rasulullah saw lebih memilih hidup sederhana, meskipun Jibril menawarkan kepadanya gunung Uhud dijadikan bongakahan emas menjadi bongkahan emas. Meskipun hidup sederhana Rasul saw menaruh perhatian dan berbagi kepada kaum tak berpunya. Tempat tinggalnya sama saja dengan kebanyakan penduduk pada masanya, tempat tinggalnya terletak di pinggir masjid, bukan di tempat khusus yang penuh penjagaan dengan berbagai prosedur, beliau pemimpin yang merakyat, mudah ditemui tanpa prosedur yang berbelit-belit. Sungguh pilihan bagi orang orang yang berkepribadian mulia.

Dalam Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad saw. tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat (Sahih Muslim: 5274)

Semoga kita termasuk orang yang mampu meneladaninya amiin ya rabbal alamin