Pages - Menu

Khutbah Jumat tentang Terorisme

contoh khutbah jumat pilihanDalam sebuah riwayat yang tertulis pada kitab Musnad Ahmad bin Hambal tertulis:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ : حَدَّثَنَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَسِيرُونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ ، فَنَامَ رَجُلٌ مِنْهُمْ ، فَانْطَلَقَ بَعْضُهُمْ إِلَى نبْلٍ مَعَهُ ، فَأَخَذَهَا ، فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ فَزِعَ ، فَضَحِكَ الْقَوْمُ ، فَقَالَ : مَا يُضْحِكُكُمْ ؟ ، فَقَالُوا : لا ، إلا أَنَّا أَخَذْنَا نبْلَ هَذَا فَفَزِعَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Dari Abdurrahman bin Abi Laila berkata: suatu ketika sejumlah sahabat melakukan perjalanan bersama Rasulullah. Ketika beristirahat, salah satu di antara mereka tertidur pulas. Sedang beberapa sahabat yang lain masih terjaga. Kemudian mereka mengambil tombak seseorang yang tertidur itu dengan maksud menggodanya (bercanda). Maka ketika yang tertidur itu bangun, paniklah ia karena tombaknya hilang. Kemudian sahabat-sahabat yang lain tertawa. Maka Nabi bertanya, “apa yang membuat kalian tertawa?” Para Sahabat menjelaskan candaan tadi. Lalu Nabi pun bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim membuat panik muslim lainnya!”

Sikap Rasul saw dalam kasus tersebut patut untuk direnungkan, sedemikian seriusnya Rasul menanggapi peristiwa candaan antar sahabat tersebut, padahal dalam bebrapa ayat karakter rasulullah adalah sangat santun
Sebagaiaman dalam firman Allah, 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.

Juga dalam ayat lain, Allah berfiman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Hadirin Rohimakumullah
Benarkah bahwa nabi tidak suka bercanda, jawabnya tentu sangat mudah, bahwa bercanda ada tempatnya, dalam sebuah riwayat pernah disebutkan, Nabi bercanda dengan mengungkapkan kepada orang tua renta, bahwa kelak di surga tidak ada orang yang tua renta, namun yang dimaksud oleh nabi adalah, surga bagi orang tua kelak semua usia tua akan dikembalikan ke usia belia untuk menikmati indahnya hidup di surga
Nah, jika dalam peristiwa di atas Nabi tiba-tiba menyambut candaan para sahabat dengan sabda beliau “Tidak halal bagi seorang muslim membuat panik muslim lainnya!”, maka itu berarti bisa kita fahami bahwa perkara membuat panik orang lain adalah perkara serius yang tidak boleh dibuat sebagai bahan guyonan atau candaan.
Siang kemarin merupakan keadaan yang sangat membuat panik beberapa saudara kita khususnya yang pada saat itu berada di jalan sarinah. Tidak hanya panik tetapi bahkan sama dengan ketakutan, terlepas apapun motifnya, baik motif agama, ekonomi, migas maupun non migas, yang pasti hal itu sulit dicarikan dalil pembenarannya

Hadirin Rohimakumullah
Lebih jauh dalam riwayat Imam Al-Bazzar dan At-Tabrany tertulis berikut ini:
أن رجلًا أَخَذَ نَعْلَ رَجُلٍ فَغَيَّبَهَا أي أَخْفَاهَا وَهُوَ يَمْزَحُ، فَذَكَرَ ذلك لِرسولِ الله فقال: لا تُرَوِّعُوْا المسلمَ، فإنَّ رَوْعَةَ المسلمِ ظُلْمٌ عظيمٌ
Seseorang mengambil sandal orang lain dengan bercanda. Lalu hal itu dibicarakan kepada Nabi dan Nabi pun bersabda, “Jangan kalian membuat panik seorang muslim. Sebab membuat panik seorang muslim adalah kedhaliman yang besar!”
Riwayat ini juga jelas senada dengan riwayat Imam Ahmad di atas. Dan untuk melengkapi dalil-dalil yang mengharamkan kita menakut-nakuti atau membuat panik orang lain, maka mari kita baca hadits riwayat Abu Syaikh dan At-Tabrany berikut:
مَنْ نَظَرَ إلى مُسلمٍ نَظْرَةً يُخِيْفُهُ فِيْهَا بِغيرِ حَقٍّ أَخَافَهُ اللهُ تعالى يومَ القيامة
Barangsiapa melihat muslim lainnya dengan penglihatan yang menakutkan tanpa alasan yang dibenarkan, maka nanti di hari kiamat Allah akan menakut-nakutinya.

Hadirin Rohimakumullah
Dari 3 hadis di atas, menjadi sangat jelas bagi kita bahwa haram hukumnya membuat orang lain ketakutan atau panik, meskipun itu hanya sekedar dalam rangka bercanda. Tentu kita bisa mengukur kepanikan candaan dengan keseriusan yang terjadi kemarin, bila dikaitkan dengan agama maka kita semua akan merasa keberatan, entah dari sisi mana pelaku tersebut mnembenarkan dirinya
بارك الله لى ولكم فى القر أن العـظيم و نفعـنى و إياكم بما فيه من الا ية وذكر الحـكيم وتقبل منى ومنكم تلا وته إنه هو السميع العلـيم

Khutbah Jumat tentang Dosa dan Cara Taubatnya

contoh khutbah jumat pilihanTak diragukan lagi bahwa rentang perjalanan hidup manusia didunia ini sudah dipastikan pernah berbuat dosa akibat kesalahan yang dilakukan kepada Allah, keluarga atau kepada sesamanya. Sebaik-baik manusia adalah dia yang mampu memperbaiki kesalahannya dengan cara bertaubat kepada Allah swt. Taubat dalam arti sesungguhnya yakni menyesal atas perbuatan dosa yang dilakukan dan berjaji dalam hati tidak mengulangi lagi dosa yang sama atau lebih dikenal dengan taubat nasuha.

Perbuatan dosa yang satu dengan dosa yang lainnya memerlukan cara taubatnya pun berbeda, sesuai dengan kepada siapa ia berbuat dosa. Berbuat dosa kepada Allah tentu taubatnya berbeda dengan dosa akibat berdosa kepada dirinya sendiri atau kepada sesama manusia. Oleh sebab itu diperlukan ilmunya tentang taubat yang benar, setap perbuatan memerlukan ilmu, tidak terkecuali bertaubat. Agaknya tidak berlebihan sya’ir Ibn Ruslan yang mengatakan bahwa beramal tanpa ilmu yang benar maka amalnya tertolak (mardud) begitu juga sebaliknya mengetahui kebenaran tanpa diamalkan maka pengetahuannya hanya berupa seonggok pengetahuan saja sama sekali tidak ada manfaatnya.

Hadirin Sidang jumat rahimakumullah..
Perbuata dosa berdasarkan kepada siapa kesalahan tersebut dilakukan, dosanya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu dosa kepada Allah, kepada dirinya dan dosa kepada orang lain. dari ketiga dosa tersebut  yang paling sulit cara bertaubatnya adalah dosa yang terakhir yakni dosa yang menyangkut kesalahan kepada sesama.

Marilah kita pahami satu persatu sebagai kepedulian kita untuk menghindarinya agar tidak terjerumus dalam sebuah kesalahan satupun.

Pertama, dosa kepada Allah a-sich, yaitu dosa karena melanggar larangan atau tidak melaksanakan perintah Allah, seperti sholat, puasa dan lain-lain. Padahal dengan jelas Allah memerintahkan mendirikan sholat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`: 103) begitu juga dengan puasa wajib.

Cara bertaubat dari dosa-dosa kepada Allah seperti di atas, cara bertaubat nya ialah membayar (qadha) kewajiban yang ditinggalkan tersebut, disertai dengan penyesalan mendalam dan berjanji seteguh hati tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi, itulah yang disebut dengan taubat nasuha seperti pada khutbah yang telah lalu.

Kedua, dosa kepada Allah namun secara bersamaan dosa tersebut juga ada kaitannya dengan dosa kepada dirinya sendiri. Sebut saja perbuata mabuk, mabuk adalah perbuatan dosa, sebab melanggar larangnan Allah namun secara bersamaan juga termasuk perbuatan dosa karena menganiaya terhadap dirinya sendiri. Untuk terbebas dari perbuatan dosa model seperti ini cara bertaubatnya harus segera berhenti dari perbuatan dosa tersebut seraya memohon ampunan kepada Allah. Apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh insyaallah Allah akan mengampuninya.

Allah maha menerima taubat hambanya, tetapi tidak boleh dijadikan sebuah papan pantul alasan seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. kemudian bertaubat lalu melakukan dosa lagi begitu seterusnya karena Allah berfirman di Dalam al Qur’an

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (An-Nisa:17)

Dalam ayat tersebut di atas, jelas dan lugas mengatakan bahwa taubat yang diterima Allah adalah taubat atas  perbuatan dosa lantaran pada saat melakukannya dalam kondisi bi jahalatin (tidak mengerti), kemudian pada saat mengerti bahwa perbuatannya tersebut berdosa, maka seketika itu bertaubat. Dengan kesigapan taubat seperti ini insyaallah taubatnya diterima secara otomatis oleh Allah swt, sebab Allah maha bijaksana. Hal ini tentu berbeda dengan taubat seseorang yang melakukan perbuatan dosa dengan kesadaran penuh. Alih alih "Allah maha pengampun" dijadikan landasan bagi sebagian orang untuk melakukan dosa, menganggap remeh karena berdalih bahwa Allah Maha Pengampun. Sungguh logika ini sama sekali tidak berdasar.

Dosa yang ketiga, dosa kepada orang lain, dosa kepada orang lain. Perbuatan dosa ini menjadi dosa yang sangat sulit untuk diampuni oleh Allah, karena cara bertaubatnya melalui beberapa tahap, yak tahap pertama dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan, keumudian memohon ampunan kepada Allah. Tanpa memohon kepada yang bersangkutan mustahil Allah mengampuninya.

Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari)

Namun demikian al Qur’an sangant menganjurkan kepada sesama untuk memaafkan dosa sesama yang teraniaya akibat ulahnya, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun [64]:17 )

Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah
Dosa kepada sesama bisa terjadi beraneka ragam, ada yang terkait dengan harta, kehormatan, keluarga dan dosa-dosa yang berkaitan dengan agama. 

Apabila dosa yang mempunyai kaitan dengan harta, entah mencuri, menipu merampas secara paksa atau mungkin korupsi maka cara bertaubatnya harus mengembalikan seuruthnya harta tersebut kemudian memohon maaf baru kemudian minta ampunan kepada Allah. Alangkah sulitnya bagi sang koruptor yang banyak melibatkan insan-insan lain untuk meminta maaf. Sungguh koruptor adalah prilaku yang kotor. Bahkan taubatnya pun sulit dan rumit step yang harus dilalui

Dosa yang menyangkut kehormatan, sebelum taubat kepada Allah untuk mengetuk pintu ampunannya, terlebih dahulu harus mengutarakan kepada yang bersangkutan sekaligus meminta kerelaannya untuk dima’afkan, barulah memohon kemudian menapaki jalan permohonan ampun kepada Allah. Tanpa meminta maaf kepada yang teraniaya maka amal kebaikannya kelak akan ditukar dengan dosa orang-orang yang dianiaya.

Dosa yang ada hubungan dengan keluarganya, mungkin pernah berbohong kepada anak, isteri, orang tua harus meminta kerelaannya terlebih dahulu sebelum memohon ampunan kepada Allah. Begitulah agama Islam sangat menghormati muru’ah orang lain sampai ke anggota keluarganya sendiri yang notabenenya dalam penguasannya tetapi masih harus dijaga dan dihormati. Disnilah sisi kejujuran terhadap siapapun harus ditegakkan meskipun kepada keluarganya sendiri.

Dosa kepada orang lain yang menyangkut agama adalah, pentakfiran, pembid'ahan pada masalah masalah furu'iyah, yang mana di dalamnya masih ada perdebatan. DEngan membid'ahkan dan menyesatkan yang lain mengakibatkan kehormatan seseorang terkurangi dimata orang lain, meski tidak dimata Allah swt. Terkecuali ada motif lain, seprti meluruskan akidah atau sejenisnya

Mudah-mudahan kita semua bukan termasuk korang-orang yang mushirruna bidz-dzanbi amiiin

Khutbah Jumat Tentang Ikhlas

contoh khutbah jumatKhutbah jumat Setiap amal perbuatan manusia butuh ikhlas sebagai pra-syarat diterimanya amal kebaikan tersebut di hadapan Allah swt. ikhlas dalam arti, beramal jernih, semata-mata hanya karena Allah swt. Tanpa ada campuran keterpaksaan, tekanan atau mendongkrak popularitas belaka. Perbuatan yang dilakukan atas dasar pencitraan diri menjau dari predikat al-mukhlisin (orang yang ikhlas).

Tanpa ikhlas seluruh amal menjadi sia-sia belaka, hanya memberatkan fisik tanpa ada atsar sedikitpun dalam psikis, secara lahiriyahnya mengerjakan tetapi kondisi bathiniyah meronta menolak perbuatan tersebut. Ibnul qoyyim al Jauziyah membuat perumpamaan kondisi orang-orang yang beramal tanpa di dasari rasa ikhlas bagaikan musyafir yang mengisi kantong perbekalannya dengan kerikil dan pasir, hanya memberi beban berat tapi tidak membawa manfaat”.

Kondisi seperti ini bisa dijadikan sebagai tolak ukur perbedaan orang munafik dan mukmin, orang munafik melakukan tetapi sebatas lahiriyahnya saja, sedangkan mukmin sejati melakukan amal perbuatan tembus sampai ke dalam lubuk hatinya, lebih lanjut Ibnul Qoyyim mengatakan

لو نفع العلم بلا عمل لما ذم الله سبحانه أحبار أهل الكتاب ، ولو نفع العمل بلا إخلاص لما ذم المنافقين .
andaikan ilmu bisa manfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta Ahli kitab. Dan andaikan ilmu itu bisa bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.

Hadirin Sidang Jumat rahimakumullah
Ikhlas menjadi salah satu benteng sakti paling kokoh terhadap gempuran musuh terbesar hatta Iblis sekalipun. Secara terang-terangan Iblis sendiri mengakui, bahwa semua manusia akan tergelincir kecuali hamba Allah yang ikhlas, pernyataan Iblis tersebut diabadikan di dalam firman Allah, (QS. Al-Hijr: 39-40).

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka".

Mari bentengi hati ini dengan benteng ikhlas, tanamkan secara kokoh di dalam hati bersama keimanan, karena keduanya yakni Iman dan Ikhlas harus selalu bersamaan dalam melakukan apa saja. Dalam dan dangkalnya iman seseorang hanya diketahui oleh sang mpu-nya orang tak mampu mengukur secara pasti keikhlasan seseorang.

Hadirin Rahimakumullah
Antara iman dan ikhlas harus selalu berdampingan dalam melakukan amal perbuatan, iman bak jasadnya sedangkan ikhlas bagaikan ruh-nya. Amal perbuatan tanpa didasari ikhlas, maka amal perbuatan seseorang tertolak. Sebagaiman sabda Rasul saw.

إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصاً وابتغي به وجهه
Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-nya”. (Hadits Hasan Riwayat an-Nasa’iy)

Ikhlas juga mempunyai peran penting dalam menentukan kualitas perbuatan seseorang, agaknya karena itulah sehingga Fudhail bin Iyadh dalam menafsirkan QS. al-Mulk: 2, siapakah yang tebaik amal perbuatannya??

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Siapa yang paling ‘baik’ amalnya, ditafsirkan siapakah yang paling ‘ikhlas’ dan paling ‘benar’ amalnya. Jadi, dapat diambil kesimpulan jika sebuah amal perbuatan dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka amalnya tidak diterima, begitupun amal perbuatan yang dilakukan dengan benar tetapi tidak dengan hati yang ikhlas, juga tidak diterima. Karena itulah setiap amal perbuatan harus disertai dengan ikhlas, tak berlebihan jika dikatakan bahwa ikhlas adalah ruh-nya amal perbuatan seseorang.

Perbuatan yang disertai keikhlasan akan menciptakan suasana bathin menjadi senagn, perbuatan yang berat menjadi ringan, yang asalnya membosankan menjadi menjadi menggairahkan. Ciri perbuatan ikhlas menurut Imam Ali ra. yaitu tak surut karena dicela, dan tidak keranjingan ingin mendapat pujian.

Perbuatan ikhlas ibarat menampi beras bercampur kerikil dan bebatuan, beras ditampi agar bersih, setelah beras tersebut menjadi murni tanpa campuran dimasak akan lezat saat dikunyah, demikian juga keikhlasan, menyebabkan amal perbuatan menjadi menyenangkan, tidak memberatkan bagi pelakunya.

Hadirin sidang jumat rohimakumullah
Di akhir khutbah jumat ini, khotib mengajak kepada diri sendiri khusunya dan umumnya kepada hadirin sidang jumat yang berbahagia untuk senantiasa belajar ikhlas, meskipun sangat berat, kadang niat awal ikhlas namun ditengah perjalanan berubah, berbolak baliknya hati inilah Nabi mengajarkan do’a

اللهم إنى أعوذبك . ان أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم
Ya Allah aku memohon perlindungan kepada Mu dari perbuatan menyekutukan Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun dari perbuatan syirik yang tidak aku ketahui (HR. Ahmad)
====
Khutbah : di Masjid Puri Bintaro, Pebruari 2013, al fitrah, Januari 2014

Khutbah Jumat tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

contoh khutbah jumat pilihan terbaruPusat khutbah jumat akan share khutbah jumat yang berjudul Berbakti kepada kedua orang tua, semoga bermanfaat dan dijacikan sebagai khutbah yang ikhlas tanpa mengharap apapun. mengawali khutbah kali ini marilah kita simak firman Allah di dalam surat al-Isra’: 23

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا.
Artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. al Isra’[17]:23)

Beriringannya perintah beribadah kepada Allah dan berbakti kepada orang tua, memberikan isyarat penekanan berbakti kepada kedua orang tua memiliki kebaikan yang berkualitas unggul, terlebih lagi orang tua yang sudah memasuki usia senja, ia butuh kasih sayang dan pengertian yang mendalam dari anak-anaknya.

Sudah menjadi kemestian dalam hidup ini setiap anak mempunyai orang tua, orang tua menjadi kandidat orang pertama yang paling berhak memperolaeh kebaikan dari anaknya dibanding orang lain di sekitarnya, bukan saudaranya, pasangannya apalagi hanya sekedar kekasihnya. Peran orang tua dalam kelangsungan hidup ini sangat besar dibanding peran orang lain, oleh karenanya terlalu mahal untuk dikorbankan demi apa saja. Namun faktanya terkadang tidak demikian adanya, banyak anak yang memandang sebelah mata ketikan keberhasilan hidup telah diraihnya, sungguh suatu saat kehidupannya akan hancur sejak di dunia terlebh di akhiranya. Berbakti kepada orang tua adalah kebaikan yang spesial termasuk dalam infak, Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ.

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.(Al-Baqarah[2] : 215)

Kebaikan kepada orang lain secara umum disebut ihsan tetapi berbakti kepada kedua orang tua memiliki istilah birrul waalidain. Arti birrul walidain itu sendiri memiliki beberapa makna yang mendalam, namun kesemuanya memiliki kesamaan yang jelas yakni berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak menyakiti dengan baik secara fisik maupun perasaan, tidak menampakkan kekesalan meskipun orang tua menjengkelkan, tidak bersuara lebih keras, hormat dan berkata baik kepadanya dalam suasana apapun dan sederet kebaikan lainnya. Mendengar dan menjalankan nasehat-nasehat baiknya secara istiqomah.

Hadirin jamaah jumat yang berbahagia,

Birrul waalidain itu berbuat baik sehingga kebaikan menjadi melejit dan berubah nama menjadi berbakti, berbakti itu sendiri tidak berarti membalas kebaikan orang tua, karena jelas tidak setara dengan kebaikan orang tua, melainkan berbuat baik karena memenuhi kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Tak bisa dibenarkan jika dikatakan bahwa berbakti adalah membalas budi baik orang tua, bahkan satu kali kesakitan disaat melahirkan saja seluruh kemampuan kita untuk dikerahkan sebagai imbalannya tidak akan pernah seimbang, belum termasuk mengandungnya apalagi mengasuhnya. Seungguh orang tua kita adalah pahlawan pertama yang membela kehidupan ini, setelah nabi dan rasulnya.

birrul waalidain menurut Al-Imam Adz-Dzahabi adalah sebuah bakti kepada orang tua yang hanya bisa terealisasi dengan memenuhi tiga kewajiban yaitu mentaati segala perintah orang tua selama tidak ada unsur maksiat, menjaga amanah hartanya dan membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan. Bila diantara ketiga unsur tersebut ada yang diabaikan maka belum layak disebut birrul waalidain

Berbeda lagi menurut Imam Nawawi, berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.” Senada dengan definisi ini dapat ditemukan dalam sabda Nabi saw,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ ( أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي جِئْتُ أُرِيدُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَقَدْ أَتَيْتُ وَإِنَّ وَالِدَيَّ لَيَبْكِيَانِ قَالَ فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا ).
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr berkata: “Seseorang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku datang ingin berjihad bersama, aku berharap wajah Allah dan kehidupan ahirat, dan aku telah datang dalam keadaan kedua orang tuaku benar-benar menangis?”, beliau menjawab: “Kalau begitu, kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka berdua menangis.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan An Nasai.)

Dibalik tatapan mata seorang ibu yang tak lagi jelas ada doa yang tulus, dibalik kulit keriputnya ada hamparan kebaikan dan bukti telah mengurus serta membesarkan anak-anaknya, dibalik pendengarannya yang mulai berkurang tersimpan nyaringnya do’a orang tua dalam pendengaran tuhan. Oleh karenanya rugi besar bagi orang yang mempunyai oran orang tua sudah sepuh namun ia tak bisa masuk ke dalam surga. Mengingat banyaknya kebaikan yang bisa kita lakukan dari seorang ibu atau bapak.

Saking besarnya kebaikan berbakti kepada kedua orang tua, seolah olah pahala kebaikannya melebihi pahala jihad. Hal ini dapat kita tadabburi hadits nabi yang menyuruh seorang pemuda untuk tinggal bersama ibunya daripada berjihad, apabila orang tuanya lebih membutuhkan, berdasarkan hadits Nabi saw:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ، أَنَّ جَاهِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ فَجِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ. قَالَ: «أَلَكَ وَالِدَةٌ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «اذْهَبْ فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلَيْهَا» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ.
Artinya: “Mu’awiyah bin Jahimah meriwayatkan bahwa Jhimah radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Sungguh aku ingin berperang, dan aku datang meminta petunjuk kepada engkau?”, beliau bersabda: “Apakah kamu memiliki ibu?”, ia menjawab: “Iya”, beliau bersabda: “Pergilah dan tinggallah bersamanya, karena sesungguhnya surga pada kedua kakinya.”( HR. Al Hakim)

Hadits di atas bernilai sahih, juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Surga di telapak kaki ibu, darinya ridhoa Allah mengalir kepada sang anak begitu juga sebaliknya durhakan kepada kedua orang tua akan mengalirkan durhaka Allah kepada sang anak.

Hadirin Jam’ah Jumat rahimakumullah
Mendurhakai orang tua sama saja dengan merusak hubungan manusia dengan tuhannya, sudah menjadi ketentua sejarah, bahwa tak seorangpun bisa menuai bahagia apabila durhaka kepada kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua siksaanya tidak hanya di akhirat saja sebagaimana dosa-dosa lainnya, tetapi dosaanya sudah di cicil sejak di dunia dan kontan di akhirat kelak. Sungguh mengerikan sekali,

Dalam cerita rakyat kita sering mendengar bahwa menanam kedurhakaan kepada orang tua akan memanen kesengsaraan secara kontan di dunia terlebih di akhirat kelak, sebut saja misalnya kisah Malin Kundang, kyai Barseso dan sederet legenda dan cerita lain yang sejenis. Durhaka kepada seorang bapak adalah dosa besar terlbih kepada seorang ibu, jauh lebih besar lagi dosanya. Keharusan berbuat baik kepada ibu disebut tiga kali kemudia kepada bapak memberikan isyarat kebanyakan kedruhakaan seseorang itu justru kepada ibunya,(lihat syarh Imam Muslim, 1/194)

Dalam hadits lain dikatakan “Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu dan melarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta (HR. Bukhariy-Muslim) status hadits shahih

Hadirin jamaah jmat yang berbahagia,

Setiap perbuatan yang menyinggung orang tua adalah dosa besar meskipun dalam pandangan umum tidaklah berdosa, misalnya memberikan sesuatu dengan melempar, begitulah Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan, atau tidak segera menyambut kedatangan orang tua di muka umum, merujuk pada kitab Az-Zawaajir II : 73. Nampaknya hal ini banyak terjadi di kalangan lingkungan orang keren, yang sebentuk gengsi dengan penampilan orang tua yang terkesan tidak trendy.

Disebut durhaka apabila ada perbuatan seorang anak yang mengusik atau mengganggu orang tuanya. Lebih jauh lagi Imam Ghazali mengatakan: “berbuat yang subhat kepada orang lain, berubah hukumnya menjadi wajib jika dilakukan kepada orang tua. Bepergian yang sunnat dan mubah menjadi haram hukumnya jika orang tua tidak mengizinkan…” dan begitulah seterusnya, tentunya apabila perintah dan larangan tersebut tidak mengandung unsur maksiat di dalamnya.

Di dalam sebuah keterangan lainnya, yang memberikan penegasan larangan durhaka kepada kedua orang tua adalah Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsan yang mengatakan, “Apabila kita sadar betapa besar hak sang ibu kepada anaknya anaknya, betapa besar dosanya durhaka terhadap kedua-nya, maafkan segala kekeliruannya di masa lalu, berusahalah menjalin hubungan baik dengannya, menyenangkan dan dahulukan kepentingannya, kurang lebih seperti itulah cara kita untuk menghindari durhaka kepadanya.

Imam Al Qurtubi erpendapat: “Termasuk durhaka kepada orang tua adalah menentang keinginan-keinginan mereka yang mubah, sebagaimana berbakti kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Perintah yang sunnat menjadi wajib, wajib bukan perbuatannya tetapi wajib kerena dalam kerangka berbakti kepada kedua orang tua, kuranglebih seperti itulah penjelasan dalam Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 6/238.

Sungguh nista sekali, era saat ini banyak kita temukan ada seorang anak tega membunuh orang tuanya, menghina dan berseteru di muka umum dengan ibunya, tak peduli ia pejabat atau artis atau siapapun mereka. Mereka akan terlaknat di akhirat kelak.

Ketahuilah Allah telah memilihkan rahim seorang ibu sebagai tempat kita menetap selama kurang lebih 9 bulan, begitu arif dan bijaksanaya seorang ibu tega merawatnya meskipun masih dalam kandungan dan menyengsarakan dirinya. Orang tua selalu berusaha menyenangkan anaknya meskipun terkadang orang tua harus berbohong, jika ada makanana ia katakan tidak, agar sang anak bisa memakannya dengan ni’mat meskipun orang tua sungguh menginginkannya.

Air mata kesediahan orang tua dikatakan sebagai sakit mata biasa, karena khawatir kesedihan orang tua mengganggu keceriaan anaknya, kesengsaraan kerja dikatakan sebagai hobi, meskipun harus menanggung beban berat agar sang anak tidak menjadi sedih karena beban yang tanggungnya. Begitulah seterusnya, sungguh orang tua berbohong kepada anaknya hanya semata-mata agar anaknya tetap ceria dan bahagia, subhanallah…

Sungguh sangat meprihatinkan, faktanya satu ibu bisa mengurusi dan membesarkan 3, 4, 5 anak atau lebih banyak lagi, tetapi tekadang lima anak tidak bisa mengurusi satu ibu saja. Kesedihan yang dahulu ditanggung ibunya mudah dilupakan sang anak pada saat memperoleh kebahagiaan di masa kini, tekadang saat mendapat kebahagiaan sang istri yang didahulukannya, jika awal bulan mendapat gajian kepada isteri diserah terimakan bukan kepada sang ibu yang sekian lama membesarkannya.

Ya rabb, mudahkan kedua orang tua kami dalam menjalani hidup di dunia, dan ampunkan seluruh dosanya agar kelak meghadapmu dalam keadaan orang yang bersih dari dosa dan noda, terimalah taubat nasuha mereka berdua