Hidup Sederhana Mengikis Korupsi

Sebagaimana pusat khutbah jumat akan posting khutbah tentang hidup sederhana mengikis korupsi, alasannya sederhana saat ini sedang marak, faktanya media banyak yang memberitakan hal itu.

Sidang Jumat Rahimakumullah...

Rasul saw bersabda yang artinya :

لوأن لإبن أدم واديا من ذهب أحب أن يكون له واديان ولن يملاء فاه إلا التراب ويتوب عاى من تاب

"Seandainya anak Adam memiliki sebuah lembah berisi emas, pasti dia ingin memiliki dua lembah emas. Tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali hanya tanah (kuburan). Dan Allah akan memberi taubat kepada orang-orang yang mau bertaubat". (HR. Bukhari)

hadits tersebut di atas memberi pengertian betapa setiap manusia mempunyai karakter rakus, kerakusan manusia tak ada batasnya, andaikan ia mempuyai apa yang telah diidam-idamkan maka muncul keinginan yang lain untuk memilikinya, karakter dan keinginan yang demikian ini berjalan terus secara simultan hingga keinginan itu terkubur bersama jasad-jasanya. Kuburan adalah satu satunya yang dapat memberhentikan keinginannya yang berlebihan itu

Nah, untuk memenuhi hasrat ingin memiliki yang berlebihan dan nafsu rakus yang menggebu-nggebu itulah disinyalir menjadi faktor terbesar terjadinya korupsi yang saat ini makin menggila penyebarannya, berkembang biak dari semua lini, dari penjuru kota hingga pelosok desa, dari instansi negeri sampai pada instansi swasta, di masyarakat ningrat maupun rakyat jelata. Bahkan ada beberapa orang terpandang dalam ilmu agamanya tetapi ia terlibat korupsi yang jumlahnya fantastis mencapai miliaran rupiah, subhanallah... hal ini membuat pablik dan insan beragama menjadi terdengang tak bisa berkata apa-apa karena saking herannya. Tidak lain penyebabnya adalah bergaya hidup mewah

Sidang jumat rahimakumullah
Jika kita sepakat bahwa sumber terbesar kasus korupsi yang melanda ini disebabkan karena gaya hidup mewah, maka cara menangkis korupsi adalah gaya hidup dengan penuh kesederhanaan. Memang tidak mudah seseorang mampu bergaya hidup sederhana, apalagi era saat ini, barang-barang dijajakan di depan pelupuk mata, pembeli bak raja semua hadir dalam mesin genggaman, informasi televisi yang lebih menampakkan tontonan kehidupan berstandar 'kelas atas' yang ditonton oleh komunitas berstandar hidup mini sungguh menjadi pendorong yang sempurna menjadi kaum konsumeris.

Lihatlah tayangan iklan begitu heboh terbalut dalam kemasan unik denderung mendorong penontonnya untuk menggebu-nggebu memilikinya, kondisi demikian jika tidak diimbangi dengan keimanan dan ketaqwaan yang kuat maka, seseorang akan sangat mudah terjerumus dalam kancah praktik koruptif dan manipulatif. Apalagi hal ini diperparah lagi oleh kurang jelinya penikmat iklan, tentu akan berujung pada rasa ingin memiliki, lambat laun akan menjadi orang yang kepemilikan yang terkadang jauh dari penghasilan yang didapat.

Klimaks dari rentetan lingkaran kehidupan diatas akan berujung pada pemaksaan kebutuhan yang harga kebutuhannya lebih tinggi dari penghasilan bersih yang di dapatnya. Dari sini celah pemaksaan terhadap pemenuhan melalui jalan bathil, yang akhirnya terbentuklah prilaku korupsi jilid pertama dimulai, hingga beranak pianak berjilid-jilid.

Sidang jumat rahimakumullah
Keterangan di atas tidaklah menggiring manusia hidup kekurangan, karena prinsip agama sendiri tidak melarang seseorang hidup kaya, telah bertebaran dalil naqli maupun dalil aqli, Ajaran seperti zakat, infak, sedekah santunan anak yatim, mengasihi orang-orang yang hidupnya dalam taraf kekurangan, menunjukkan adanya anjuran menjadi orang kaya. Begitu juga dengan haji, bagaimana ada kwajiban haji jika kaya itu dilarang oleh agama, sedangkan haji pasti membutuhkan biaya yang tinggi. Jelalah bagi kita bahwa, sama sekali tidak bisa dibenarkan secara aqli maupun naqli bahwa Islam melarang menjadi kaya.

Hidup mewah dilarang, hidup miskin bukan anjuran, maka pilihan tepat dalam beragama adalah hidup sederhana. Dengan kesederhanaan langkah pemenuhan kebutuhan menjadi ringan, ibadah lebih fokus, dan beban pertanggung jawabannya di akhirat menjadi lebih ringan

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا.

Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
(Al- Furqon:67)

Rasulullah saw lebih memilih hidup sederhana, meskipun Jibril menawarkan kepadanya gunung Uhud dijadikan bongakahan emas menjadi bongkahan emas. Meskipun hidup sederhana Rasul saw menaruh perhatian dan berbagi kepada kaum tak berpunya. Tempat tinggalnya sama saja dengan kebanyakan penduduk pada masanya, tempat tinggalnya terletak di pinggir masjid, bukan di tempat khusus yang penuh penjagaan dengan berbagai prosedur, beliau pemimpin yang merakyat, mudah ditemui tanpa prosedur yang berbelit-belit. Sungguh pilihan bagi orang orang yang berkepribadian mulia.

Dalam Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad saw. tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat (Sahih Muslim: 5274)

Semoga kita termasuk orang yang mampu meneladaninya amiin ya rabbal alamin
===
Di masjid: YSM
Tanggal: 7 Juni 2013

Judul Khutbah Terkait:

Semoga Manfaat, nantikan khutbah terbaru