Pages - Menu

Khutbah Jumat tentang Ludah Hewan vs Ludah Manusia

kata-katamu adalah panahmuSetiap sesuatu yang keluar dari lisan ini tidak ada nilainya kecuali dzikir kepada Allah begitujuga yang berupa benda bahkan ludah hewan lebih mahal daripada ludah manusia, ini pelajaran yang sangat berharga untuk diposting di pusat khutbah jumat kali ini.. secara lengkapnya

الحمد لله الذى أحسنَ خلْقَ الإنسان وعدَّلَه. وألهمه نورَالإيمان فزَيَّنه به وجَمَلَّتَه. وعلَّمه البيانَ فقدَّمه به وفضَّلَه. وافاضَ على قلبه خزائنَ العلومِ فأكمَلَه. ثم أرسل عليه ستراًمن رحمتِه وأسبَلَه. ثم أمدَّه بِلسانٍ يترجَّم به عمَّاحواه القلبَ وعقْلَه...
أشهدأن لاإله إلاالله وحده لاشرِيكَ لَه. وأشهدأنَّ مُحمَّداعبدُهُ ورسُولُه لا نبي بعده ...
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة.
أعوذبالله من الشيطان الرجيم : وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ...
. إتقواالله.. أن الله يحب من التقى ويكره من الطغى
Sidang Jumat Rahimakumullah
Seluruh yang keluar dari lisan seseorang baik berupa perkataan maupun suatu benda, sama sekali tidak ada nilainya di hadapan Allah swt kecuali berupa dzikir kepada Allah ta’ala, begitu juga yang berupa benda, semua tidak ada harganya dipasar manapun juga, Bahkan jika kita mau merenungi sejenak, sesuatu yang keluar dari mulut hewan terkadang jauh lebih berharga daripada yang keluar dari mulut manusia.

Ludah burung walet jauh lebih mahal harganya daripada ludah manusia, satu botol ludah burung walet laku ratusan juta rupiah, bisa dipakai untuk bahan obat dan kosmetik bermutu tinggi, tapi ludah manusia tidak pernah laku meskipun dibantu oleh marketing hebat manapaun, coba kita bandingkan pula, ludahnya lebah atau madu satu botolnya laku jutaan rupiah, tetapi ludah kita semua semakin banyak dikumpulkan maka semakin pula menjijikkan, Hal ini memberikan isyarat dan pelajaran yang baik untuk kita, bahwa segala sesuatu yang keluar dari lisan kita baik berupa benda maupun berupa perkataan tidak berharga kecuali berupa rangkaian dzikir kepada Allah swt.
Anas bin Malik ra menegaskan: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakn." ( Anas bin Malik), hampir setiap sesuatu semakin banyak jumlahnya semakin banyak pula manfaatnya tetapi bukan untuk perkataan, semakin banyak perkataan yang tidak berguna maka semakin pula membahayakan, karena semakin banyak pula pertanggung jawabannya di hadapan Allah swt. Oleh karena itu muslim yang baik adalah diamnya berfikir, melihatnya sebagai pelajaran, dan perkataannya adalah dzikir untuk mengingat kepada Allah swt. 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (al Isra’: 36)

Sidang Jumat rahimakumullah
Menjaga lisan dari perkataan yang tidak ada gunanya amatlah penting di dalam ajaran kita, karena menjaga lisan dari perkataan yang berlebihan merupakan pekerjaan berat bagi siapa saja, hatta ulama’ besar sekalipun. 

Banyak orang mampu melaksanakan ibadah puasa Kamis dan Senin secara rutin, sholat sunnat dengan istiqomah, membaca al-Quran sesuai makhraj dan lagu merdunya, menuntut ilmu dengan segala kemampuannya, zakat, infak dan shodaqoh dari sebagian hartanya, tetapi ma’af… sedikit sekali orang-orang yang mampu menjaga lisannya dari perkataan-perkataan yang tidak berguna, hal ini diakui sendiri oleh ulama’ besar sekaliber Yunus bin Abidillah, beliau pernah berkata “Sesungguhnya aku mampu menanggung beratnya puasa di terik matahari yang panas membakar, tetapi aku tidak mampu meninggalkan perkataan yang tidak berguna” (minhajul abidin: 30)

Sidang Jumat rahimakumullah
Sungguh mulya orang yang bisa menjaga lisannya dari kebanyakan kata yang tidak ada gunanya, tidak hanya menyelamatkan diri sendiri tetapi juga bisa menyelamatkan dan menyejukkan hati orang lain yang mendengarnya. Tak heran jika soal berlebihan dalam berkata menjadi perhatian serius dari Rasulullah saw dalam memberikan nasehat kepada Sufyan bin Abdullah:

ولقد رويناعن سفيان بن عبدالله أنه قال: قلت يارسول الله ماأكثرماتخاف علي فأخذعليه الصلاةوالسلام بلسان نفسه ثم قال هذا
Sungguh kami meriwayatkan dari sufyan bin Abdullah, dia berkata, Wahai Rasul saw, apa yang engkau takutkan dariku, kemudian Rasulullah menunjuk kepada lisannya, dan bersabda:”ini (lisan)”. 

Dalam pandangan agama, lisan bisa dijadikan salah satu tolak ukur kemusliman seseorang, orang muslim adalah orang islam yang memberikan kedamaian dari lisan dan tangannya kepada muslim lainnya, dari perkataannya didengar menyejukkan dan berisi nasehat untuk kebaikan, dari perbuatannya mengundang simpati dan bermanfaat untuk sesama, seolah-olah orang lain bisa berteduh dibawah tingkah lakunya. Kurang lebih seperti itulah gambaran pengertian hadits sahih riwayat Imam Bukhari
المسلم من سلم المسلم من لسانه ويده (رواه البخارى
Muslim adalah orang yang selamat dari lisan kejahatan tangan dan lisannya (HR. Bukhariy) 

Itulah posisi lisan dari segi agama, Sedangkan Dalam kehidupan sehari hari, lisan menjadi tolak ukur terhormat dan tidak sekujur tubuh ini. Karena lisan sebagai juru bicara dari semua anggota tubuh yang ada, bila lisan banyak menghamburkan kata yang tidak berguna maka seluruh anggota tubuh ini akan terkena sanksi sosial dan dianggap sebagai orang yang tidak berguna, bila lisan berkata salah maka seluruh tubuh dinilai salah. Dalam kesehariannya anggota tubuh sangat menggantungkan ‘nasibnya’ di lisannya. Ada hadits hasan yang dari Sa’id bin Jubair yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi: bahwa apabila telah masuk waktu pagi maka seluruh anggota tubuh memperingatkan kepada lisan, seraya berkata:
إتق الله فينا فإنك إن ستقمت إستقمنا وإن أعوجت أعوججنا
takutlah kepada Allah didalam urusan kami, sesungguhnya jika engkau (lisan) berlaku lurus maka kami akan menajadi lurus dan jika engkau berlaku bengkok maka kamipun akan menjadi bengkok

Sidang jumat rahimakumullah
Semua yang disampaikan di atas adalah peringatan kepada kita, sebagai nasehat kepada diri khotib dan jama’ah jumat semuanya untuk tidak banyak menghamburkan kata yang tidak berguna, ngobrol yang tidak ada manfaatnya atau bergurau yang tidak bermutu. Untuk tidak berkata yang berlebihan saja sedemikian agama menjaganya, terlebih lagi jika dalam berkata ada unsur dusta di dalamnya, berbohong, adu domba, atau namimah, sungguh tidak bisa dibayangkan betapa besar dosa dan siksanya.

Mungkin akhir-akhir ini kita dibanjiri oleh banyak janji, janji tersebut mereka tuliskan melalui media social, sepanduk atau media-media lainnya semoga janji yang berhamburan itu benar adanya. Kalau tidak sungguh teramat berat siksanya, dan juga sering pula kita menyaksikan fenomena lain yang menurut penilaian kita ada unsur kebohongan di dalamya, ia melakukan praktek manipulasi tetapi tidak mengakuinya, ia korupsi tetapi tidak jujur mengakuinya, ada yang rela berlaku bohong dalam bersaksi, meskipun telah disumpah secara sah dibawah naungan qur’an. Mudah mudahan semua itu menjadi akibat baik bagi bangsa ini dan bagi kehidupan rakyatnya aamiin...
izinkan kami mengutip satu maqalah dari Sufyan at-Tsauri
"Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya."
بارك الله لي ولكم فى القرأن العظيم ونفعنى وإياكم بما فيه من الأية والذكر الحكيم وتقبل منا ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

===============
Masjid : Baiturrahman
Tempat : Villa Bintaro Indah
Tanggal: 25 Oktober 2013
===================