Pages - Menu

Taubat Unlimited

Taubat bukan ibadah yang tidak terbatas, kerena taubat dilakukan sewaktu hidup sedang hidup ada batasnya, maka taubat juga terbatas selama masih hidup dan masih dalam batas kesadaran yang utuh. Apabila hampir sakaratul maut menjelang kematian tiba maka pintu taubat ditutup rapat, jadi taubat itu limited edition . Naudzubillahi min dzalik. Alla berfirman di dalam surat An-Nisa' ayat 18:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا.
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih

ayat di atas memberi kepastian kepada kita semua bahwa ritualitas taubat dibatasi selama nafas belum tersandung ditenggorokan, mengingat kematian adalah rahasia dan kapanpu bisa tiba maka taubat pun tidak menerima kata "ditunda". Melakukan taubat untuk diterima bukan suatu hal yang unlimited sampai bisa diwakilkan kepada orang lain akan tetapi taubat itu limited edition, sewaktu-waktu mau datang maka edisi taubat dan perpanjangan waktunya tidak akan diterbitkan lagi

Kematian datang sebelum taubat dilakukan menjadi kerugian terbesar dalam seluruh rangkaian waktu kehidupan di dunia, karena siksa Allah taala menanti di sana.bacalah khutbah jumat : taubat sebelum mati

Arti taubat di mata ulama'

Pusat khutbah jumat yang lalu telah kami paparkan taubat nasuha, rupanya masih ada saja celah untuk melengkapinya sehingga dalam term yang berbeda saat ini marilah merenungi arti taubat sesungguhnya , akar kata "TAUBAT" terdiri dari tiga huruf yakni ta-wa-ba mempunyai makna satu yaitu "kembali" kembali kepada kesucian seperti semula diciptakannya, kurang lebih seperti itulah arti taubat secara sederhana, mungkin mudah difaham setelah anda membaca posting sebelumnya tentang taubat nasuha

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". (QS. Shaad; 71-72)

Allah swt telah menciptakan manusia dari dua unsur. Di dalam tubuhnya terdapat unsur tanah, juga unsur ruh. Inilah yang menjadikannya layak dijadikan objek sujud oleh malaikat sebagai penghormatan dan pemuliaan kedudukannya. Allah swt berfirman:

Ayat diatas ingin menegaskan bahwa manusia terdiri dari dua unsur yang berbeda, yaitu unsur tanah dan unsur ruh tuhan, ruh tanah sumber untuk merendahkan derajat kemanusiaan sedangkan unsur ruh berpotensi besar kembali mendekat (baca: taubat) kepada Allah. pada saat manusia melakukan maksiat dan perbuatan rendahan maka disitu ada dominasi unsur tanah, sebaliknya ketika manusia berbuat kebaikan dan ketaatan, berarti unsur ruh ketuhanan yang mendominasi. begitulah terus menerus manusia ber-jihad melakukan pertentangan dalam dirinya. Secara mutlak manusia butuh "taubat nasuha" sebagai suksesi pemenangan ruh dalam kehidupannya. kalimat yang ditunjuk denagn kata nasuha berbrti kemurnian hati dalam penyesalan, lawan katanya adalah kepalsuan (ghays)

Ibnu Katsir berpendapat: "taubat nasuha adalah, taubat yang haq dilakukan sepenuh hati akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya."

Beragam pendapat para ulama' besar ketika memaknai arti taubat nasuha, Hasan Al Bashri berpendapat taubat adalah jika seorang hamba menyesal akan perbuatannya pada masa lalu, serta berjanji untuk tidak mengulanginya. senada dengan yang disampaikan oleh Imam Ahmad melalui riwayat Ibnu Mas'ud bahwa taubat dari dosa ialah bertaubat dari dosa kemudian tidak mengulanginya lagi. begitu juga Ibnu Katsir, Ibnu Jarir dan Ibnu Qoyyim al Jauziyah, seseorang yang bertaubat dari dosa dan ia tidak melakukan dosa itu lagi, seperti susu tidak kembali ke payudara hewan lagi" begitulah yang saya baca dari beberapa situs terpercaya.

Dalam hal ini anjuran bertaubat tidak hanya untuk orang-orang yang masih berada di luar islam, tetapi orang beriman juga diperintahkan untuk bertaubat berdasarkan QS. at-Tahrim:8

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ي.

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.....". (QS. At-tahrim [66]:8)

Adapun tekhnis melakukan pertaubatan, yaitu meminta ampunan dengan lidah, menyesal dengan hatinya, serta menjaga tubuhnya untuk tidak melakukannnya lagi, begitu menurut pendapat al Kulaby, bberbeda lagi dengan Muhammad bin Ka'b al Qurazhi yang menjelaskan tekhnis lebih detail: taubat itu diungkapkan oleh empat hal: beristighfar dengan lidah, melepaskannya dari tubuh, berjanji dalam hati untuk tidak mengerjakannya kembali, serta meninggalkan rekan-rekan yang buruk. pendek kata taubat tidak cukup hanya dengan lidah

Bagaimanapun dalam postingan khutbah jumat tentang taubat nasuha pernah disampaikan bahwa taubat adalah pekerjaan hati yang lebih mendominasi, penyesalan dan kemurnian niat untuk tidak megulangi lagi.

Khotib dan khutbah jumat ideal

Sebelum postingan ini terbit ada baiknya menengok sejenak fiqh jumat membahas tentang adzan ke tiga sebelum melanjutkan bacaan ke khutbah jumat ideal, maksud dari khutbah jumat ideal adalah khutbah jumat yang memenuhi syarat rukun secara sempurna & dilakukan oleh khotib yang faham pelekasanaan sholat jumat.

Ironis, khutbah jumat seharusnya menjadi momentum saling berpesan ketaqwaan rutin mingguan rupanya tidak diminati para jama'ah jumat, mungkin disebebkan temanya kurang menarik, terkadang melangit  kurang praktis dalam penggunaan bahasanya. padahal khotib bisa dikatakan baik minimal khutbah itu disampaikan dengan kalimat yang simpel tidak bertele-tele terlalu lama. Padahal seharusnya sholat jumat hendaknya lebih lama daripada khutbah jumat. Mari kita bahas terlebih dahulu syarat rukun khutbah jumat.

Syarat Khutbah Jumat
Syarat adalah hal-hal yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan ibadah di mulai, dalam hal ini syarat khutbah jumat ada enam, terus terang admin blog pusat khutbah jumat bermadzhab syafi'i, jadi syarat dibawah ini adalah menurut Imam Syafi'i

  1. Niat
  2. Lhutbah jumat dilakukan sebelum salat pelaksaan sholat Jum'at
  3. Niat berkhutbah
  4. Disampaikan dengan bahasa yang difahami oleh Jamaah Sholat Jumat.
  5. Dua khutbah dilakukan secara berturut-turut, tidak boleh dipisah dengan sholat, atau perbuatan malahi (main-main) .
  6. Penyampaian Khutbah Jumat dengan suara paling tidak terdengar oleh 40 orang. karena Imam Syafi'i mensyaratkan sholat jumat minimal 40 orang
  7. Antara Khutbah & sholatnya tidak dilakukan terpisah dalam rentang waktu lama / tidak wajar menurut pertimbangan syara' pada umumnya.
Rukun Khutbah Jumat
Rukun adalah sesuatu perbuatan yang harus dilakukan pada saat pelaksanaan bentuk ibadah tersebut, dalam hal ini rukun khutbah jumat antara lain;


  1. Membaca hamdalah
  2. baik khutbah pertama atau kedua sama sama hamdalah menjadi rukun khutbah, khutbah tanpa mengucapkan hamdalah maka tidak sah
  3. Membaca Sholawat kepada Nabi Muhammad, dengan berbagai macam bentuknya, intinya adalah membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw.
  4. Wasiat untuk Ber-taqwa kepada Allah, ajakan untuk berbuat baik atau naehat dalam rangka peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt, wasiat untuk melaksanakan perintah & menjauhi larangannya. kemasan lafadznya tentu sesuai dengan kemampuan khotib masing-masing.
  5. Sebagai dasar dari ajakan tersebut, maka didalm khutbah wajib membaca ayat-ayat al quran, meskipun hanya satu ayat, sepanjang yang saya tahu, ada sebagian ulama' membolehkan sebagian dari ayat-ayat al quran
  6. Berdo'a untuk kaum muslimin-muslimat, mukminin-mukminat serta memohon ampunan kepada Allah .

Tentang bahasa Arab dalam berkhutbah, ada perbedaan pendapat dari beberapa ulama, Pertama; Madzhab hanafi membolehkan dengan bahasa apa saja asalkan bisa difahami oleh para jamaah, kami sarankan dengan bahasa Arab sekaligus bahasa yang mudah difaham oleh jama'ah. Kedua, Imam Maliki berpendapat semua khutbah jumat harus disampaikan dalam bentuk bahasa Arab, kalau tidak ada yang mampu berbahasa Arab ya tidak wajib melaksanakan sholat jum'at *ha....h Ketiga, berbeda lagi menurut Imam Hanbali yang tidak memasukkan do'a sebagai rukun khutbah, adapun masalah bahasa, berbahasa arab jika mampu, seandainya tidak mampu maka boleh menggunakan bahasa yang difaham, khusu untuk membaca ayat harus berbahasa Arab

Khotib ideal
Ada sebuah riwayat menyatakan bahwa ;"panjangkan sholat jumat & persingkatlah khutbah," khutbah yang terlalu panjang juga tidak baik, tetapi khutbah juga tidak baik dilakukan dalm rentang waktu terlalu singkat, karena dianggap termasuk orang "pelit" berbagi pengetahuan. Khotib dan khutbah ideal adalah penyampaian khutbah dengan menggunakan bahasa yang simpel dengan tema menarik. lebih lama sholatnya dari pada khutbahnya. Khusus untuk tempat yang tak terlindung dari panas & hujan, pada saat-saat tertentu khotib harus bijaksana... wallahu a'lam bis-shawab

Khutbah Jumat Tentang Taubat Nasuha

Pusat Khutbah jumat sharing lanjutan tentang khutbah jumat yang sebelumnya sudah dibahas dengan tema taubat sebelum mati Sulit dipungkiri bahwa setiap orang pernah berbuat dosa karena melanggar syara', melanggar perintah atau larangan Allah, berbuat aniaya terhadap dirinya atau sesama makhluk Allah. Dengan kemurahan Allah, Allah menyediakan pintau taubat yang dilakukan sebelum mati -- silahkan baca khutbah jumat tentang taubat sebelum mati -- untuk dimasuki oleh para hambanya yang berniat ingin membersihkan dosanya. Dari sekian kasus sering kita jumpai orang mengaku bertaubat tetapi ia kembali lagi ber-prilaku semula. layaknya orang makan sambal yang pedas tapi masih saja ia menambahnya

meski demikian Allah bersifat attawwab yang artinya berkali-kali menerima taubat, maksud saya, bukan berarti dengan sifat at-tawwab-nya Allah itu menjadi sebuah alasan untuk mengulang dosa terus menerus kemudian diikuti taubat terus menerus, hendaknya para pendosa menghentikannya & taubat (kembali) ke jalan yang benar serta berniat untuk tidak mengulangi lagi, taubat yang demikian disebut dengan taubat nasuha.

Fiqh Jumat tentang Adzan ke Tiga

Blog pusat khutbah jumat mengumumkan kepada pengunjung untuk mengikuti menu baru yaitu fiqh jumat mengingat banyak kesimpang siuran informasi fiqh yang beraitan dengan perayaan ibadah sholat jumat. Kali ini yang akan kita bahas hasil dari penelusuran admin menemukan tema menarik terkait dengan jumatan yaitu adzan jumat.

Pada mulanya adzan jumat dilakukan hanya sekali dan iqamah seteleh khutbah jumat sekali, pada pembahasan ini kami sebut adzan kedua, dua adzan ini dipraktekkan pada masa Rasulullah saw, yakni ketika khotib duduk di atas mimbar dan khotib turun mimbar khutbah jumat untuk menunaikan sholat jumat.

Tujuan adzan adalah pemberitahuan kepada khalayak umum akan masuknya waktu sholat jumat di daerah tersebut, seiring dengan perkembangan zaman, makin meluasnya kaum muslimin kemudian khalifah Utsman bin Affan memerintahkan mengumandangkan adzan yang ketiga, yaitu adzan sebelum khotib naik mimbar jumat. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dijelaskan :

Khutbah Jumat Tentang Pemalas dan Sifat Munafik


Khutbah jumat terbaruDalam rangka membedakan ketaqwaan yang bersemayam di dada masing masing hambanya, Allah menitahkan suatu perintah, dari perintah itu dapat diketahui bertakwa atau tidak seseorang. Khutbah jumat kali mengemukakan kisah menarik tanggapan orang-orang saat dihadapkan pada sebuah perintah perang tabuk, rentetan kisah inilah ikut melatarbelakangi turunnya Surat At-taubah: 49, tidak lain adalah berkaitan dengan sifat munafik
Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah". Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. (QS. At Taubah : 49).
Ayat tersebut berkaitan dengan orang munafik yang mencari-cari alasan untuk absen dari perang tabuk, perang tersebut terjadi saat musim panas. Salah seorang bani salmah bernama Al- Jadd bin Qais beralasan kepada Rasulullah saw, Al Jad bin Qais berkata: “Ijinkanlah saya untuk tidak di bawa ke dalam ujian (fitnah) serupa ini. Masyarakat saya sudah cukup mengenal, bahwa tak ada orang yang lebih berahi terhadap wanita seperti saya ini. Saya kuatir, bahwa kalau saya melihat wanita-wanita Banu’l-Ashfar (Bangsa Romawi), saya takkan dapat menahan diri.” Alasan klise karena wanita seperti yang dikemukakan oleh al Jad bin Qais adalah hanya kepuraan semata.

Sidang Jumat Rahimakumullah
Perang tabuk terjadi tahun 630 M bertepatan tahun 9 H, pasukan muslimin melawan bangsa Romawi, perang tersebut terjadi di perbatasan Syam, Untuk menuju perbatasan syam bukan perkara mudah, medannya sulit, cuacanya panas. Untuk mencapainya saja butuh niat tulus & kondisi fit belum lagi berperang. Rasulullah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berperang. Mereka yang taat sajalah yang tak memandang panas diperparah medan yang terjal menghadang. Menghadapi perintah ini, berbagai tanggapan muncul sesuai dengan bobot ketaatan dan keimaman mereka. Diantara mereka ada sekelompok ummat merespon perintah dengan sigap dan siap, ada juga yang menolak dan adapula yang enggan berperang dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.

Kategori kelompok terakhir yaitu orang-orang yang enggan berperang dengan segudang alasan yang dibuat-buat adalah termasuk golongan munafiqiin. Kelompok ini sangat berbahaya & mengancam semangat kaum muslimin lainnya. Bahkan diantara mereka ada yang sengaja untuk menghalang-halangi, supaya kaum muslimin lainnya tidak ikut berperang. Allah berfirman:

“…. dan mereka berkata: “Jangan kamu berangkat perang dalam udara panas begini.’ Katakanlah: ‘Api neraka lebih panas lagi, kalau kamu mengerti! Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang mereka kerjaka.” (QS. At Taubah: 81-82)

Sidang jumat yang mulia…
Dalam kehidupan sehari-sehari senantiasa kita dapati tiga golongan tersebut ketika dihadapkan pada sebuah perintah. Dari kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran, betapa hidup yang untuk mati ini selalu memerlukan pengorbanan secara total, baik dari segi fisik, mental maupun material.

Khutbah jumat diatas tidak lain adalah mempertegas bahwa ciri munafik tidak hanya terhenti pada tiga ciri termasyhur, yaitu berbicara dusta, berjajni ingkar dan apabila dipercaya khianat. Tetapi pemalas itu sifat munafik juga dalam menjalankan perintah adalah bagian dari termasuk orang-orang munafik juga. baca juga khutbah jumat tentang taubat sebelum mati

Ringkasan khutbah jumat : taubat sebelum mati

Berbagi ringkasan khutbah jumat tentang taubat sebelum mati ini bermanfaat dan bisa dikembangkan oleh pembaca sesuai dengan mustami’ yang ikut dalam sholat jumat. Sehingga memenuhi tujuan yang ditargetkan yaitu mengisi kebaikan dalam rentang hidup dan mati yang akan dijalani oelh setiap hamba.


Hidup dan mati adalah dua kata yang saling bertetanggaan selamanya, karena setiap yang hidup berakhir dengan kematian kecuali Dia yang maha hidup, kematian dalm arti batas kehidupan dunia disebut dengan aja. Sesuai dengan namanya, “ajal” tidak bisa dimajukan atau dimundurkan meskipun sesaat, kepastian Allah yan satu ini mesti diyakini sepenuh hati, dengan cara menyiapkan bekal menuju episode kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.
Hadirin sidang jumat rahimakumullah

Khutbah jumat ini dimaksudkan untuk memperingatkan kepada kita bahwa betapa dahsaytnya adzab allah yang menimpa seorang pendosa yang belum terampuni dosanya, Alammh akan mengadili hambanya seadil-adilnya di hari itu semua wajah tertunduk memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Anak tak perduli lagi dengan orang tuanya, guru tak perduli lagi dengan muridnya mana boss dan bawahan semua sama dihadapan Allah, perbuatanlah sebagai juru selamatnya.